Transformasi Redaksi Televisi – Cerita Dari Jakarta Di Forum Broadcasting Global

Putra Nababan membagikan ceritanya ketika diundang untuk menjadi pembicara di Global News Forum


2
162 shares, 2 points

Berbicara di forum internasional, bukanlah perkara mudah, tapi pastinya pengalaman berharga. Apalagi jika format bicaranya adalah diskusi panel ala town hall meeting yg diberi judul Global News Forum (GNF) SERU lah. 

Sepanggung pula dengan para jurnalis senior dari Portugal, Australia dan Singapura. Kami diganjar untuk membahas topik  Transformation of TV Newsroom” dengan peserta lebih dari 40 negara Asia dan Pasifik. 

GNF yang diadakan oleh Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) & Media Corp Singapura diisi dengan empat diskusi panel dan satu workshop tentang millennials.

Anyway, waktu dihubungi panita GNF beberapa bulan lalu saya sampaikan, “Tolong tanya ke Sekjen ABU apakah saya masih relevan untuk bicara di forum broadcasting internasional. Saat ini saya sedang merintis platform digital idtalent dan lebih banyak bicara dengan generasi muda yang mau tau soal kehidupan profesional dan pengembangan potensi mereka.” Saya khawatir sudah tidak relevan lagi. 

Eh besoknya si mbak staf ABU mengabarkan, “Kami tetap menginginkan kamu hadir sebagai pembicara. Peserta forum global ini perlu mendengar pengalamanmu di dunia broadcast.”

Di forum ini, saya bertemu teman-teman lama dari Melbourne dan Macau yang menanyakan kenapa mulai usaha platform digital & kenapa ngurus talent? Saya ceritakan tentang bagaimana media, pemirsa dan industri telah berjasa pada saya dan saya ingin berkontribusi untuk mereka. Semangat ‘giving back‘ gitu.

Selain itu saya juga bilang gini, "I want to help improve the quality of journalism and offer sustainable  business through processing human capital, talent development and management."

Di forum serius kayak gini ada juga lucu-lucuannya, ketika saya pake baju nasional sendirian. Awalnya panitia memberikan ijin pada pembicara dan moderator untuk menggunakan kostum nasional. Cool kan! Kita bisa pake batik, jas model rajiv atau barong dan lainnya. Saya bawa batik dong, bukan ahli batik, cuma cinta sama batik. Kebayang di sana akan banyak yang pake kostum nasional sambil cas cis cus saling ngobrol bahasa Inggris. Eeeh sampe di lokasi GNF, ternyata cowo-cowonya pake jas gelap dan dasi. Alhasil saya cowo sendiran berbaju nasional berasa 'saltum' tapi tetep PD lah jadi tampil beda.

Anyway, topik panel "Tranformation of TV Newsroom" memang klise banget dibahas bersama ratusan jurnalis broadcasting senior negara. Apalagi di situ ada guru besar jurnalistik. Jadi kami diminta tidak berteori, harus bahas yg konkret dan riil. 

Moderator, wartawan senior asal Portugal yang super energik memandunya memulai dengan bertanya ke saya tentang transformasi ruang redaksi yang dimulai dari unsur 'manusianya'. Saya sampaikan bahwa transformasi redaksi tidak akan mungkin berhasil alias 'impossible' jika orang-orang yang memimpin management stasiun tv itu sendiri tak mau berubah. 

Transformasi harus terjadi secara bersama-bersama di semua lini tv berita. Harus ada perubahan mindset cara  pandang, pendekatan dan prilaku dari pimpinan selevel manager, GM dan direksi di HRD, programming, riset dan pengembangan, teknik dan IT, sales marketing, termasuk administrasinya juga. Sesaat saya perhatikan wajah moderator, panelis lain dan peserta agak kaget. Mungkin mereka pikir saya akan bicara detail redaksi sebagai core business dari tv berita.

Pengalaman membuktikan impact influence of a newsroom and the profitability of a TV station hanya terjadi jika melibatkan semua element, bukan cuma jurnalis saja. Beberapa lalu manggut-manggut, tapi ada juga yang tersenyum kecut. Mungkin dia orang redaksi yang jarang melibatkan elemen lain dalam  mentransformasi newsroom-nya.

Kolaborasi,sejatinya  dilakukan oleh orang-orang yang punya kemampuan berbeda-beda dengan visi sama untuk menciptakan dan menjalankan program/projek yg membawa perubahan besar, melakukan lompatan yang jauh. Apalagi 'lawan' yang dihadapi  TV bukan main-main, digital dan social media.

Ditambah lagi, TV berita memiliki tantangan klasik yg belum 100% bisa diselesaikan yakni kebanyakan pemirsa yang lebih senang dihibur ketimbang dijejali berita. Penurunan jumlah pemirsa berita saya rasakan sejak kerja di tv swasta umum tahun 2004, taktala penayangan serial sinetron dilakukan setiap hari, tidak seminggu sekali lagi. Lembaga survey yang mengeluarkan rating share TV dan program-programnya  lebih  berpihak pada pemirsa kelas menengah bawah. Alhasil, program yang mendapat iklan besar hanya yang menghibur, entertaining.  Program yang mengajak pemirsa berpikir, biasanya diganjar rating rendah. Rating rendah sama dengan tidak ada pemasukan. Tanpa uang, program-program itu akan diganti dengan program yang menghasilkan uang.  Pun program idealis itu dipertahankan, biasanya slot tayangnya dipindah  ke jam yang sedikit penontonnya. Ini praktek yang biasa .

Kembali ke panel diskusi. Sejak awal, moderator asal Portugal usul agar kita bicara tentang manusia yang bekerja di newsroom, tidak melulu bicara teknologi, sistem atau format. Saya dan panelis dari Australia langsung bilang 'setuju.' Bicara manusia sangat relevan dalam melakukan transformasi. Dan di forum ini saya lebih banyak bicara transformasi TV berita, tidak melulu ruang redaksi. Sambil tersenyum saya bilang, jurnalistik dan idealismenya adalah menu makanan kita sehari-hari. Tapi idealisme harus ditopang dgn penghasilan yg memadai. Tidak boleh pas-pasan, apalagi ngutang. TV berita adalah entitas bisnis juga, bukan non-profit atau lembaga siaran komunitas. Apalagi wartawan TV biasanya bergaji paling besar dibanding jurnalis majalah,  koran, radio ataupun dotcom. Ini sebanding dengan revenue TV yang jumbo.

'Tranformasi melalui kolaborasi' menurut saya adalah model yang tepat di dalam menghadapi tantangan digital dan perubahan prilaku pemirsa. Tahun 2012 ketika banyak TV berita di berbagai belahan dunia menghadapi kegamangan karena perubahan pola konsumsi berita, transformasi saya mulai dengan membentuk sebuah tim ad-hoc. Tim "Transformasi melalui kolaborasi" ini saya isi para level manager dan GM dari tim redaksi, ahli riset, teknik, IT, branding, HRD, programming dan lain-lain. Mereka berjumlah 11 orang yang mewakili nyaris semua   departemen yang ada di sebuah TV berita. Mereka saya sebut "kesebelasan"

Kesebelasan ini yang selama 4,5 tahun ke depan menjadi think tank untuk mempelopori pendekatan baru agar produk-produk jurnalistik kami tetap ditonton dan memiliki dampak tapi harus punya penghasilan berlipat ganda. Tim ad-hoc ini membuat komunikasi di antara mereka menjadi sangat cair dan gesit dalam bermanuver merealisasikan program kerja.

Di level operasional ke 11 orang ini yang saya tugaskan untuk memastikan apa yang kita rancang dipahami seluruh jajaran mereka dan dilaksanakan dengan sempurna. Waktu itu saya mengintroduksi istilah 'zero defects' sebagai key performance indicator mereka. Alhasil kesebelasan bukan cuma sebagai tangki pemikir tapi juga pelaksana harian.

Di awal pertemuan kebelasan saya mengingatkan tanpa kolaborasi yang tulus, jurnalistik dan bisnis akan mati perlahan. TV adalah medium yang melibatkan 100% urusan teknik dan memilik jangkauan pemirsa sangat luas. Untuk mencapai cita-cita berdampak berpengaruh dan harus untung, kita harus kolaborasi dan melihat tujuan yg sama. Bahkan kepada sesama  senior jurnalis saya jelaskan, jika perusahaan kita untung kita akan mengurangi risiko wartawan amplop.

Di acara diskusi panel ini saya juga sharing tentang transformasi redaksi melalui pengembangan manusia. Training yang intensif diberikan pada semua level jurnalis, termasuk mendukung penuh  para jurnalis yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dan doktoral. 

Selain itu, diciptakan laporan bulanan jurnalis yang sistem penilaiannya memadukan stylebook redaksi, kode etik dan sistem rating. Hal ini penting agar produk-produk jurnalistik yang ditayangkan tidak melulu didikte lembaga rating saja yang rawan menghilangkan peran mendidik.

Digital dan media sosial menurut saya adalah tantangan sekaligus kesempatan bagi televisi untuk melakukan elevasi, bukan momok. Untuk itu, transformasi ruang redaksi tidak ada gunanya jika tidak dilakukan bersama dengan transformasi TV itu sendiri. Tantangannya memang, bisnis model yang saya sampaikan di atas tidak sustain karena kesinambungannya hanya ada pada perubahan model yang  dinamis, paling tidak untuk sekarang ini. 

Anyway, masih banyak sebenarnya yg bisa di-sharing dari pengalaman sebagai peserta dan pembicara di Global News Forum. Saya menikmati sesi terakhir berupa workshop untuk mengenali generasi millenials terutama dalam mereka mengkonsumsi informasi dan berita. Mungkin lain waktu bisa saya sharing juga. Semoga bermanfaat ya. (Putra Nababan, Wartawan & Founder idtalent.id)


Like it? Share with your friends!

2
162 shares, 2 points

What's Your Reaction?

LOL LOL
0
LOL
Sedih Sedih
0
Sedih
Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
10
Senang
Takut Takut
0
Takut
Terinspirasi Terinspirasi
8
Terinspirasi

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Putra Nababan

Text Trooper

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF

Send this to a friend