Antik itu Cantik

Tulisan ini kurang lebih menceritakan tentang pelajaran hidup yang saya petik dari seorang pengoleksi barang antik.


48
Share via
11 shares, 48 points

Langit biru yang menaungi Kota Bandung siang itu hampir berubah menjadi abu-abu kala saya sampai di daerah Sarijadi. Perjalanan yang saya tempuh selama satu jam dari Jatinangor cukup membuat saya lelah karena banyak bertemu kemacetan. Setelah cukup lama berkutat dengan sepeda motor, saya akhirnya sampai di rumah Rully Ginting, seorang yang terbilang ‘kondang’ di Pasar Cikapundung, Bandung.

Pasar Cikapundung sendiri merupakan pasar tematik yang khusus menjajakan barang antik, yang terletak di daerah Cikapundung, Bandung. Sebelumnya, Pasar Cikapundung kurang dikenal karena pengelolaan dari pasar ini terbilang kurang. Tetapi, Kang Rully, sapaan akrab Rully Ginting, berinisiatif untuk lebih menghidupkan kembali pasar Cikapundung dengan menghimpun pedagang barang-barang antik di seantero kota Bandung untuk sama-sama menghidupkan kembali Pasar Cikapundung. Sejak saat itu, namanya kondang di kalangan pecinta barang antik se-Indonesia.

Kang Rully dan kumisnya yang antik

“Silahkan duduk, maaf rumah saya berantakan, banyak barang-barang (antik).” Ujarnya ketika mempersilahkan saya masuk ke dalam rumahnya. Sebagai penggemar barang-barang antik, Kang Rully memiliki banyak  koleksi barang antik di rumahnya, seperti pemutar piringan hitam,  televisi, setrika besi, hingga helm besi yang dipakai para tentara saat perang dunia kedua. Bagi Kang Rully, barang antik memiliki arti  tersendiri dalam kehidupannya.

Kang Rully sendiri saat ini terdaftar sebagai Ketua Asosiasi Pedagang Barang Antik Pasar Cikapundung  sejak 4 tahun lalu. Semenjak ia menjabat sebagai ketua asosiasi, ia sudah banyak melakukan terobosan. Seperti menjadikan Pasar Cikapundung sebagai sarana menuangkan bakat dalam bidang musik. Menurut Kang Rully, memasarkan barang-barang antik ketika ada sebuahevent musik menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

“Sering ada event musik  diadakan di sini (Pasar Cikapundung). Saya juga mendukung tiap acara  musik disana, sekalian lebih mempopulerkan nama Pasar Cikapundung di  mata masyarakat.”

Ketika sedang asyik berbicara, Kang Rully menunjukkan beberapa koleksi barang antik yang dimilikinya, seperti beberapa buku jadul sisa peninggalan zaman penjajahan Belanda atau surat kabar Pikiran Rakyat dan KOMPAS edisi tahun 1970-an. Barang-barang antik ini didapat Kang Rully dari beberapa tukang rongsok di Indonesia.

“Makanya, setiap ada orang yang ingin mencari barang-barang antik, mereka mencari saya. Ibaratnya saya jadi buronan gitu.” Ujarnya sambil tertawa.

Memang,  sosok Kang Rully amat penting bagi para pecinta barang antik. Beberapa  orang rela datang jauh dari luar Bandung hanya untuk mengkonsultasikan  dan membeli barang antik dari pria berusia 54 tahun ini. Bahkan, seringkali beberapa tokoh figur terkenal datang ke Pasar Cikapundung  untuk menemui kang Rully, seperti David dari grup band Naif, artis Manohara, Ahmad Dhani, dan lain sebagainya.

“Iya, mereka sering datang ke Pasar Cikapundung. Pernah si Ahmad Dhani datang untuk mencari piringan hitam jadul, Manohara sering juga datang untuk mencari lukisan. Sedangkan si David Naif yang paling sering kesini kalau tidak ada jadwal manggung. Saya sama David sering ngobrol, kan sama-sama anak (pecinta) motor.”

Untuk lebih mengkomersilkan penjualan barang-barang antik di Pasar Cikapundung, Kang Rully juga berinisiatif membuat akun instagram untuk menjual barang-barang antik. Dengan nama akun instagram @pasarcikapundungbaranglawas, masyarakat dimudahkan dengan akses pembelian barang secara online atau melihat katalog barang yang dijual tanpa harus datang kesana.

Koleksi Koran Jadul milik Kang Rully

“Dari barang antik, kita bisa belajar banyak. Seperti belajar  mengenai sejarah bagaimana sebuah barang dibuat, atau memori tentang perasaan manusia yang timbul saat menggunakan sebuah barang, atau  mengenai masa lalu.”

Lalu, Kang Rully juga menyebutkan bahwa saat ini banyak orang yang salah kaprah terkait penamaan barang jadul. Menurutnya, penggolongan dan penamaan sebuah barang jadul terbagi tiga, yaitu vintage, antique, danancient.

“Kalau vintage itu artinya pertengahan, yang usianya masih kisaran 50 tahun. Diatas vintage ada namanya antique (antik) yang kisaran usianya 50 tahun keatas. Nah diatas itu ada yang namanya ancient yang artinya kuno. Kisaran usianya ratusan bahkan ribuan tahun keatas. Jadi, penggolongan dan penamaan sebuah barang jadul dinilai dari usianya. Semakin tua usianya, semakin berharga barang itu.”

Bagi Kang Rully, memakai atau mengoleksi barang antik memiliki keuntungan tersendiri. Baginya, barang jadul adalah sebuah kebanggaan yang tidak bisa didapat dari barang-barang yang tidak jadul.

“Banyak (manfaat) yang bisa saya ambil dari barang jadul. Misal ketika saya mengendarai sebuah sepeda onthel yang  sudah cukup tua, saya merasa bangga memakainya. Justru ketika saya ditertawai orang-orang karena dibilang beda, saya tertawai balik orang-orang yang mentertawai saya karena mereka semua sama.”

Penuturan  diatas juga diperkuat oleh pendapat Kang Raha, seorang pecinta motor antik yang juga sahabat dari Kang Rully. Menurutnya, barang antik  memiliki daya tarik tersendiri dan lebih terasa kebanggannya apabila  memakai barang-barang antik.

“Saya pun juga memiliki peniliaian  tersendiri, menurut saya barang antik merupakan cinta yang tak lekang  oleh waktu. Kang Rully ini sejak dulu memang suka sama barang antik, hingga sekarang pun kecintaan terhadap barang jadul pun masih  besar.” Ujarnya ketika sama-sama berada di kediaman Kang Rully. Kang  Raha juga mengatakan, Kang Rully sejak dulu memang orangnya lain dari  yang lain karena ia sangat cinta dengan barangjadul.

Setelah  cukup lama saya berbincang-bincang dengan kang Rully, saya pamit untuk pulang ke Jatinangor. Sebelum saya beranjak, Kang Rully memberikan  sebuah oleh-oleh yaitu lembaran koran KOMPAS dan Pikiran Rakyat edisi tahun 1970. Saya baru mengetahui bahwa koran pada zaman dahulu  berbentuk kotak, bukan persegi panjang seperti koran pada saat ini.

Menurut saya barang antik merupakan cinta yang tak lekang oleh waktu. Sama seperti cinta kedua orangtua kepada kita.


Like it? Share with your friends!

48
Share via
11 shares, 48 points

What's Your Reaction?

LOL LOL
0
LOL
Sedih Sedih
0
Sedih
Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
6
Senang
Takut Takut
0
Takut
Terinspirasi Terinspirasi
5
Terinspirasi

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Send this to a friend